Makalah Seputar Seni dalam Islam

BAB 1

 

 

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

 

 

Seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan seni maka kehidupan manusia terasa lebih indah, dinamis dan lebih bermakna. Bahkan beberapa orang beranggapan bahwa kehidupan manusia akan terasa hampa tanpa seni. Seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia yang dilahirkan dengan perantara alat komunikasi kedalam bentuk yang dapat ditangkap oleh alat indra pendengaran dan penglihatan atau dilahirkan dengan perantara gerak. Kesenian Islam sendiri    merupakan kesinambungan kesenian pada zaman silam yang telah berkembang dan dicorakkan oleh konsep tauhid yang tinggi kepada Allah SWT. Kesenian oleh Islam dijadikan sebagai sarana dalam menyebarkan dan berdakwah untuk umat. Kesenian dalam Islam diwujudkan dalam seni bangunan, arsitektur, lukis,ukir, seni tari, dan lain-lain.

 

Dalam jiwa, perasaan, nurani, dan keinginan manusia tertanamnya rasa suka akan keindahan dan keindahan itu adalah seni. Sebenarnya, kesadaran mengenai keindahan adalah satu faktor yang amat penting dalam Islam. Antara faktor yang penting dalam seni ialah hakikat, ketulenan/kesucian, kejujuran dan semua ini terjalin dalam jiwa orang-orang Islam. Seni menjadi bahan perantaraan yang menghubungkan satu jiwa pencipta dengan satu jiwa lain, yaitu pengamat. Menurut perspektif Islam, daya kreatif seni adalah dorongan atau desakan yang diberikan oleh Allah yang perlu digunakan sebagai bantuan untuk (memeriahkan) kebesaran Allah. Berseni haruslah beralamatkan kepada perkara-perkara makruf (kebaikan), halal, dan berakhlak.

 

Diantara masalah  yang  paling  rumit  dalam  kehidupan Islami  adalah  yang berkaitan dengan hiburan dan seni. Karena kebanyakan manusia sudah terjebak pada kelalaian  dan   melampaui   batas   dalam   hiburan   dan   seni   yang   memang   erat hubungannya dengan perasaan, hati serta akal dan pikiran. Dalam makalah ini akan sedikit menyajikan tentang sejarah seni di dalam islam, kemudian pandangan islam terhadap seni, pandangan para ulama terhadap seni, dan batasan seni dalam islam. Semoga akan menjadikan pembelajaran bagi kita selanjutnya dalam menyikapi apa itu seni atau kesenian.

 

1.2  Rumusan Masalah

 

 

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

 

a.       Apa pengertian seni ?

b.      Apa saja cabang-cabang seni ?

 

c.       Bagaimana kedudukan seni dalam islam ?

d.      Bagaimana pendidikan agama islam dan pengembangan seni budaya islam ?

 

e.       Apa saja dukungan Al-Qur‟an terhadap seni ?

f.        Bagaimana penjelasan mengenai isyarat seni dalam Al-Qur‟an ?

g.      Apa saja batasan-batasan seni dalam islam?

 

 

1.3  Tujuan

 

 

Untuk  mengetahui  pengertian  seni,  cabang-cabang  seni,  kedudukan  seni dalam islam,   pendidikan agama islam dan pengembangan seni budaya islam, dukungan Al-Qur‟an terhadap seni, beberapa isyarat seni dalam Al-Qur‟an, dan batasan-batasan seni dalam islam.

 

1.4  Manfaat

 

 

Dapat dijadikan sebagai referensi dan sumber pengetahuan, memperluas wawasan megenai Seputar Seni Dalam  Islam bagi pembaca dan bagi  mahasiswa sebagai calon guru sekolah dasar kelak ketika mengajar di sekolah dasar.

                                                                                                                                                                                           

 

1.5  Metode

 

Untuk menyusun makalah ini digunakan metode pustaka dengan mempelajari dan mengumpulkan informasi dari buku, jurnal, dan sumber online (internet) yang terpercaya serta sesuai dengan topik permasalahan.

 

BAB II

 

 

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Pengertian Seni

 

 

Dalam KBBI, seni didefinisikan sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi. Dikarenakan begitu kompleksnya suang lingkup seni, beberapa tokoh mencoba mendefinisikan apa itu seni. Seni bukannya sesuatu yang dapat di raba atau dinikmati saja, seperti yang kita lihat di museum atau  galeri, melainkan seni  merupakan  sesuatu  yang  di  ciptakan  manusia untuk  menciptakan inderanya. (Fauzi, 2015)

 

Menurut bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (dalam  Jenuri, dkk,

 

2019:19), menurutnya  seni  adalah  segala  perbuatan  manusia  yang  timbul dari hidup perasaan dan bersifat indah, hingga menggerakan jiwa perasaan manusia. Seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama). (Wildan, R. 2007)

 

2.2  Cabang seni

 

 

Cabang-cabang seni dibagi  menjadi  berbagai   cabang  berdasarkan  visual seni  yang  dihasilkan. Berdasarkan buku Wawasan Seni (2005) dalam  Jenuri, dkk (2019:19-21) cabang-cabang seni antara lain;

 

1.    Seni Rupa

 

Seni   rupa   adalah   suatu   wujud   karya   manusia   yang   mengandung   unsur keindahan.  Keindahannya  diserap  dengan  indra  penglihatan  seperti  :  seni lukis,  seni  pahat,  seni  patung,  seni  grafis,  seni  lingkungan  (environmental art),     seni  instalasi,  seni  pertunjukkan  (performing  art),  seni     peristiwa (happening art) dan sebagainya.   Rasa   senang   ditimbulkan   karena   adanya keterpaduan   dari   unsur-unsur   bentuk   dari   karya   tersebut   seperti   aneka warnanya,   selang-seling   garis, aneka   bentuk   bidang-bidangnya,   kemiripan bentuk   objek   yang   dilukiskannya dengan      lukisannya,      aspek      tematik yang    diungkapkannya,    keunikannya, teksturnya,  dan  lain-lain.  Sedangkan keindahan  dalam  pengertian  sederhananya adalah  sesuatu  yang  memberikan rasa  senang  tanpa  pamrih  pada  orang  yang melihatnya.   Kesenangan   yang ditimbulkannya   muncul   serta   merta   karena keindahan   karya   itu   sendiri, bukan   karena  ada  kepentingan   lain   yang membuatnya merasa senang. 2.    Seni Musik

 

Seni musik atau seni suara adalah seni yang diserap melalui indra pendengaran. Rangkaian  bunyi  yang  didengar  dapat  memberikan  rasa  senang  dan  rasa puas bagi   yang   mendengarnya   karena   adanya   keserasian   susunan   dari rangkaian tangga nada bunyi-bunyi tersebut. Secara    garis    besar    ada    dua jenis    musik    yaitu    musik vokal    dan    musik instrumental.    Musik   vokal adalah   musik   yang   hanya   mengandalkan  suara manusia  saja,  sedangkan musik  instrumental  adalah  musik  yang  diperoleh  dari memainkan alat-alat musik.

3.        Seni Tari

 

Seni tari adalah seni yang diserap melalui indra penglihatan. Tetapi kekhususannya    adalah    keindahan    yang    dinikmati    pada gerakan-gerakan tubuh, terutama   gerakan   kaki   dan   tangan,   dengan   ritme-ritme   teratur, biasanya mengikuti irama musik. Seni tari juga tidak terlepas dari seni rupa karena gerak-gerak yang diperlihatkan diserap dengan indra penglihatan.

4.        Seni Drama

 

Seni  drama/theater  adalah  seni  peran  atau  lakon  yang  umumnya  dimainkan di atas panggung. Seni ini dinikmati sekaligus dengan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dalam ungkapan lain seni drama disebut juga dengan seni theater  (panggung).  Secara  umum  merupakan  gambaran  sebuah  peristiwa duniawi atau imajinasi  yang  dihadirkan  kembali  diatas  panggung. Keindahan seni  drama terletak  pada  ketepatan  alur  cerita  yang diperankan  oleh  para pemain  diatas panggung. Saini  KM  dalam  bukunya peristiwa  theater  (1996), menuliskan   seni theatre adalah   seni   dunia   ambang,   yaitu   ambang   untuk menoleh  kepada  yang  indrawi dari pengalaman sehari-hari dan menoleh juga kepada dunia nilai.

5.        Seni Sastra Seni   sastra   adalah   seni   yang   dikemukakan   melalui   susunan rangkaian  bahasa baik  lisan  maupun  tulisan  yang  dapat  menimbulkan  rasa senang  tanpa  pamrih bagi     orang     yang     membacanya.     Secara     garis besar    seni    sastra    dapat dikelompokkan  kedalam  dua  kategori  besar  yaitu prosa  dan  puisi.  Prosa adalah seni  sastra  yang  berusaha  mendeskripsikan keadaan, keinginan,   atau   imajinasi secara mendetail. Sedangkan puisi adalah seni yang cenderung menyederhanakan   deskripsi   dengan   menangkap   inti permasalahan  yang  ingin diungkapkan.

Mengutip pendapat Alexander Smith (1835 : 366), Sutrisno (1999 : 132) dalam bukunya  Kisi-Kisi  Estetika  menulis  :  beda  pokok  antara  prosa  dan  puisi. Prosa adalah    bahasa    akal    budi    si    seniman,    sedangkan    puisi    adalah bahasa   dari perasaan.  Dalam  prosa  seniman  mengkomunikasikan  pengertian akan   hal-hal indrawi    atau    pikiran,    sedangkan    dalam    puisi    seniman mengungkapkan bagaimana  hal-hal  itu  menerpa,  menyentuh  perasaan  kita. Termasuk  kedalam kategori  prosa  adalah  karya  sastra  yang  berbentuk  novel, cerita  bersambung, cerita  pendek,  esai-esai  yang  mengemukakan  kritik  dan pemikiran-pemikiran budaya.  Sedangkan  yang  termasuk  dalam  kategori  puisi adalah  pantun,  syair, dan puisi-puisi lain dalam berbagai bentuknya.

 

 

2.3  Kedudukan Seni Dalam Islam

 

Kesenian atau seni adalah manifestasi dari kebudayaan sebagai hasil cipta karya manusia yang meliputi seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa dan lain-lain. Pada awalnya bentuk  kesenian islam  dari  perpaduan  beberapa kebudayaan  timur tengah, tidak begitu jelas namun melalui toleransi umat islam lahirlah karya seni berkonsep islam dari penyempurnaan seni sebelumnya. Seni yang murni lahir dari ajaran islam adalah seni bangunan (masjid) dan seni tulis indah (kaligrafi). Pada dasarnya islam merestui setiap karya yang sejalan dengan ajarannya, namun melarangnya jika menyimpang. Karya-karya tersebut merupakan pengungkapan pandangan hidup yang khas sesuai dengan prespektif akan normal dan nilai-nilai ke  islam.

Sebagai salah satu unsur kebudayaan, seni merupakan fitrah manusia yang dianugrahkan Allah untuk suatu kegiatan yang melibatkan kemampuan kreatif dalam mengungkapkan keindahan, kebenaran dan kebaikan, seni sebagai proses kreatif adalah ungkapan dari suasana hati, perasaan dan jiwa (Rader, 1986).

Agama islam tidak memberikan atau menggariskan teori dan ajaran yang rinci tentang seni dengan bentuk-bentuknya, sehingga belum memiliki „batasan‟ tentang seni islam yang diterima semua pihak. Meskipun demikian Seyyed H. Nasr telah memberikan ciri-cirinya, yaitu bahwa: seni islam merupakan hasil dari pengenjawantahan ke-Esaan pada bidang keanekaragaman yang merefleksikan ke- Esaan Illahi, ketergantungan keanekaragaman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kesempatan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an (Nasr, 1993:18).

Disamping  beberapa  pendapat  yang  telah  mencoba  menggambarkan  seni islam, berikut akan dikemukakan pandangan dari M. Quraish Shihab sebagai berikut: Kesenian-kesinian islam tidak harus berbicara tentang Islam, ia tidak harus berupa nasihat langsung atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga abstrak tentang akidah. Seni yang islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan „bahasa‟ yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni islam adalah seni ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang islam, hidup dan manusia, yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan (Shihab,

1996:398).

 

Objek dan cara penampilan seni dapat bebas, artinya boleh menggambarkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat dan memadukannya dengan apa saja. Lapangan seni islami adalah semua wujud, tetapi seni yang ditampilkan tidak bertentangan dengan fitrah atau pandangan islam tentang wujud itu sendiri. Pada saat seni   telah   berfungsi   sebagai   sarana   dakwah   islamiyah  dan   bertujuan  untuk memerhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia serta menggambarkan baik atau   buruknya   suatu   pengalaman,   maka   seni   tersebut   merupakan   seni   yang bernafaskan islam.

Seni islam adalah seni yang dapat mengungkapkan keindahan dan konsep tauhidsebagai esensi akidah, tata nilai dan norma islam, yaitu menyampaikan pesan ke-Esaan Tuhan. Seni islam diilhami oleh spiritualisasi islam secara langsung, sedangkan  wujud  kan  dibentuk  karakteristik-karakteristik  tertentu.  sesuatu  bentuk seni yang dilandasi oleh hikmah atau kearifan dari spiritualisasi islam tidak hanya berkaitan  dengan  penampakkan  lahir  semata  (wujud),  akan  tetapi  juga  realitas batinnya (makna).

Hasil perwujudan seni islam dibentuk oleh karakteristik tertentu, diantaranya adalah estetika dan kreatifitas. Menurut, penilaian islam bahwa segala bentuk seni selain merupakan karya ibadah (pengabdian kepada Allah) juga mengandung dan mengungkapkan      keindahan.  Estetika  islam  tidak  dapat  dicapai  melalui penggambaran manusia dan alam. Hal itu hanya bisa disadari melalui perenungan terhadap kreasi artistik yang akan mengarahkan pemerhati kepada sesuatu intuisi kebenaran yang hakiki, bahwa Allah juga seluruh ciptaan-Nya sebagai yang tidak tergambarkan dan terkatakan. Estetika yang islam merujuk pada penilaian dan norma abadi dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah, karena seni islam pada satu segi dibatasi oleh nilai-nilai azasi, etis dan norma-norma Illahi yang umum serta pada segi lain dibatasi oleh kedudukan manusia sendiri sebagai abdi Allah.

Berbagai tantangan terhadap kreatifitas estetis telah dialami sejak awal perkembangan  kesenian  Islam.  Pada  mulanya  seniman  muslim  mengenal  bahan, teknik dan motif dari pada pendahulunya seperti seni  Byzantium atau Sassanide. Kemudian mereka mengembangkannya sesuai dengan inspirasi yang tumbuh dari nilai-nilai dan norma islam. Mereka telah menemukan model baru yang diambil dari budaya lokalnya yang disesuaikan dengan ajaran islam dan kesadarannya sebagai pribadi-pribadi muslim. Model ini telah diterapkan sebagai dasar kesatuan estetika dalam dunia islam tanpa mengabaikan keberagaman budaya lokal. Dalam kaitan ini

pengertian  estetika  nampaknya lebih  ditekankan  pada penghayatan  kreasi  budaya lokal yang bertentangan dengan nilai tauhid. Bukan berarti akal pikirannya sudah lepas  sama sekali,  tetapi  peranan  hati  nurani  dan  rohani  sebagai  pangkal  akhlak agama lebih diutamakan.

Menurut pandagan Al-Ghazali mengenai keindahan islami dibedakan atas :

keindahan bentuk luar yang dapat dilihat oleh mata lahir, sedangkan  “keindahan bentuk dalam” yang hanya dapat diterima oleh mata batin (Ettinghausen dalam Beg, 1981:26). Hal ini menunjukan bahwa islam memberikan penilaian dan penghargaan yang begitu tinggi erhadap pengalaman estetis. Al-Faruqi (1986: 165-168) menyebutkan   bahwa   pada   seni   islam   terdapat   enam    karakteristik   estetis pengungkapan tauhid yang meliputi: abstraction, modular structure, successive combinations, repetition, dynamism intricacy. Meskipun bersifat umum, ciri-ciri tersebut cukup memberikan gambaran tentang karya seni islam.

Pertama, ialah berupa abstraksi alam melalui teknik stilasi pada objeknya. Kedua, karyanya tersusun dari sejumlah modul yang digabungkan, sehingga menghasilkan desain utuh. Ketiga, adalah pola-pola pada seni islam menunjukan adanya gabungan yang berurutan dari berbagai modul untuk menghasilkan beberapa pusat perhatian estetis. Keempat, adanya pengulangan dari modul atau motif yang akan memberikan kesan irama ritmis dan memperlihatkan rangkaian kesatuan dalam keryanya. Kelima, adalah setiap desain seni islam mempunyai gerak dinamis dan tidak monoton akibat adanya teknik penggabungan modul dan pengulangan. Keenam, hadirnya detail yang rumit dalam penggambaran susunannya, sehingga meningkatkan kualitas pola dan menjadikannya corak yang islami.

Salah satu kerakteristik lain dalam bentuk seni islam adalah kreatifitas yang berkaitan erat dengan estetika dan sangat tergantung pada kesadaran pribadi seniman. Estetis dan kreatifitas merupakan syarat mutlak sebuah karya seni, sehingga bagi seorang seniman muslim selain telah menciptakan karya seni yang bermanfaat dan indah sekaligus dia telah menjalankan ibadahnya.

Sebagai satu kesatuan integral seni  terdiri dari empat komponen esensial, yaitu karya seni (wujud, benda) kerja cipta seni (proses penciptaan), cita cipta seni (pandangan, konsep, gagasan) dan dasar tujuan seni (ibadah, manfaat, etis, logis, estetis).   Keempat   komponen   tersebut   berkesusaian   dengan   kategori-kategori integralis seperti materi, energi, informasi dan  nilai-nilai. Dengan demikian pada hakekatnya seni adalah dialog intersubyektif (hablumminallah) dan kosubyektif (hablumminannas) yang mencerminkan hubungsn vertikal dan horizontal (Mahzar, 1993 : 16). Dalam bahasa yang khas pada hubungan vertikal tersirat kalimat syahadat yang pertama dan hubungan horizontal tersirat syahadat kedua. Kedua kalimat syahadat dalam bentuk aktifnya tasyahud, yaitu ibadah kepada Allah SWT dan pelaksanannya merupakan rahmatan lil alamien sebagai esensi seni islam.

 

2.4  Pendidikan Agama Islam Dan Pengembangan Seni Budaya Islam

 

 

Seni budaya dikalangan primitif jelas merupakan ekspresif kepercayaan mereka. Seni tari yang dikembangkan dalamrangka pemujaan dewa, demikian juga seni pahat dan seni suara. Tarian dan nyanyian masyarakat primitif adalah tarian dan nyanyian mistik. Karya seni besar di India, yaitu kisah Ramayan dan Mahabrata jelas kisah  keagamaan  Hindu. Candi  adalah peninggalan seni  bangunan  dan  arsitektur keagamaan Hindu dan Budha. Seni kaligrafi dan arsitektur masjid dalam islam juga karya seni yang berhubungan dengan wahyu dan tempat beribadah kepada Allah. Para  Sufi  menulis  verita  dan  puisi  yang  sarat  dengan  pengembaraan  mereka mendekati dan menemui Allah di alam ruhani, yaitu seni budaya yang mencerminkan nilai-nilai islam. Seni budaya memperoleh perhatian yang serius dalam islam karena mempunyai  peran  yang  sangat  penting  untuk  membumikan  ajaran  utama  sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat manusia.

Al-Qur‟an memandang seni budaya sebagai suatu proses, dan meletakan seni budaya sebagai  eksistensi hidup manusia. Seni  budaya merupakan  suatu totalitas kegiatan manusia yang meliputi kegiatan akal, hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu perbuatan. Seni budaya tidak mungkin terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan, namun bisa jadi lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Seni budaya islam adalah adalah hasil olah, akal, budi, cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang berlandaskan pada nilai-nilai tauhid. Hasil olah, akal, budi, cipta, rasa, dan karsa yang telah terseleksi  oleh  nilai-nilai  kemanusiaan  yang bersifat  universal berkembang  menjadi  sebuah peradaban.

Seni secara keseluruhan terbagi kepada: seni murni dan seni budaya. Seni murni adalah seni yang lebih merujuk kepada estetika atau keindahan semata. Seni yang digunakan dengan suatu cara yang khusus untuk berbagai aktifitas, seperti : melukis, menggambar, mengkomposisi musik, atau membuat sajak, yang merupakan aktifitas untuk menghasilkan karya, termasuk seni murni. Seni budaya : berkenaan dengan keahlian untuk menghasilkan sesuatu dalam bentuk tulisan, percakapan, dan benda bermanfaat yang indah.

Menurut M. Quraish Shihab, seni budaya islam diartikan sebagai ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Seni budaya dalam pandangan Seyyed Hosen Nasr diartikan sebagai keahlian mengekspresikan ide dan pemikiran estetika dalam penciptaan benda, suasana atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah dengan berdasar dan merujuk pada Al- Qur‟an dan Hadits. Meski merujuk kepada sumber pokok islam, akan tetapi islam sendiri tidak menentukan bentuk dari seni islam melainkan hanya memberikan acuan dan arahan. Oleh karenanya seni islam bukanlah seni yang bersumber dari entitas tunggal yaitu kitab suci saja, melainkan juga berkait erat dengan seni budaya yang berkembang pada suatu masyarakat.

Seni budaya adalah fitrah : kemampuan berseni dan berbudaya merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian islam sebagai agama fitrah akan mendukung seni budaya selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula islam bertemu dengan seni budaya dalam jiwa manusia, sebagaimana seni budaya di temukan oleh jiwa manusia di dalam islam.

Allah SWT meyakinkan manusia tentang ajarannya dengan menyentuh hati mereka melalui seni yang di tampilkan Al-Qur‟an, yakni melalui kisah-kisahnya yang nyata  atau  simbolik  yang  dipadu  oleh  imajinasi  :  melalui  gambaran-gambaran konkrit,  dari  ide  abstrak  yang  dipaparkan  dalam  bahasa  seni  yang mencapai puncaknya. Al-Qur‟an menjadikan kisah sebagai salah satu sarana pendidikan yang sejalan dengan pandangannya dengan alam, manusia dan kehidupan.

Maka pada saat seseorang menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan, seni dan hiburan dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia, menggambarkan akibat baik atau buruk dari suatu pengalaman, maka pada saat itu seni yang ditampilkannya adalah seni yang bernafaskan islam, walaupun di celah-celah kisahnya ia melukiskan kelemahan manusia dalam batas dan penampilan yang tidak mengandung kejatuhan manusia.

Secara teoritis, manusia memiliki tiga kemampuan dasar untuk mengembanghkan seni budaya. Pertama: rasa/imajinasi untuk mengembangkan estetika, kagum, terharu, sehingga berperasaan  tajam dan berdaya cipta. Kedua  : pikiran yaitu rasio untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga : iman (ucapan dan perbuatan) terhadap islam. Dalam sejarah, seni islam mengalami kemunduran dan hancur sama sekali karena spiritualitas dan intelektualitas yang memberikan daya hidupnya yaitu Al-Qur‟an dan As-Sunnah telah terabaikan.

 

Persoalan pengabaian sumber pokok seni budaya islam tersebut tidak lain karena derasnya pengaruh karya seni budaya masyarakat sekular dan  masyarakat modern yang tampak sudah demikian materialis dan biologis. Tumpuan perhatian dan fokus dari karya seni dan budayanya adalah kecantikan dan penampilan luar tidak lagi budi luhur dan kedalaman perasaan. Tarian di dominasi goyang dan penampilan erotis. Semua penampilan matrealistis dan biologis dari seni budaya modern tidak terlepas dari kaitannya dengan “agama” masyarakat sekuler dan masyarakat modern yaitu “agama matrealisme” yang dianut sebagau kebenaran satu-satunya sehingga lahirlah seni budaya yang fulgar.

 

2.5  Dukungan Al-Qur’an Terhadap Seni

 

 

Al-Qur'an merupakan sumber pembentukan seni dalam Islam di dalamnya terdapat proses pengembangan berbagai seni untuk terus berkembang menurut era dan zaman tertentu, sebagiannya disempurnakan oleh tokoh-tokoh yang berpengaruh pada masa dan periodenya masing-masing. Contoh kegiatan seninya adalah :

 

1.        Seni khat

 

Seni khat merupakan salah satu bidang kesenian yang dihasilkan oleh umat islam yang sering disebut seni kaligrafi islam. Seni ini berkembang dari satu masa ke masa schingga menjadi begitu terkenal dan sangat diminati oleh para pencinta seni tulisan dalam masyarakat islam. Seni ini memfokus tehadap hasil tulisan yang menggunakan berbagai gaya dan corak dengan menghasilkan rangkaian huruf, kalimat dan ayat yang ditulis secara sistematik, indah dn sempurna. Tokoh yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni khat ini diantaranya yaitu Ibnu Muqlah. Sumbangan dan penemuan beliau dalam berbagai kaidah seni khat yang dikenali sehingga sekarang telah dikembangkan oleh Ibn Al-Bawwaba sehingga kaidahnya menjai lebih sempurna Seterusnya kaidah tersebut dikembangkan lagi oleh tokoh Yaqut Al-Musta simi sehingga seni ini sangat dikagumi. Perkembangan tulisan-tulisan seni khat utama dikenali dengan tulisan Sittah (6) yaitu Thuluth, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riq'ah dan Diwani. Bentuk seni khat ini yang lebih dikenal dengan nama al-aqlam al-sittah (enam tulisan yang asal) sebagia berikut :

a.    Khat  kufi,  khat  ini  merupakan  jenis  khat  tertua.  Seni  tulisan  ini  banyak memiliki sudut dan siku-siku serta persegi, mengandung garis-garis vertikal yang pendek dan garis horizontal memanjang. Khat kufi berkembang di kufah dan hal ini juga disebut khat musawa yaitu salah satu jenis tulisan arab berbentuk siku.

b.    Khat Naskh, yaitu jenis tulisan tangan berbentuk cursif yakni tulisan bergerak berputar dan sifatnya mudah serta jelas untuk ditulis dan dibaca. Khat ini merupakan tulisan dasar yang sering digunakan karena mudah dipelajari.

c.    Khat  Thuluth,  yaitu  tulisan  yang  banyak  digunakan  untuk  tujuan  hiasan khususnya dalam pembuatan tajuk-tajuk buku atau sub bab dan nama-nama kitab.  Jenis  ini  juga digunakan  untuk  tulisan  hiasan  pada dinding-dinding bangunan.   Jenis   ini   sesuai   dengan  karakter   hurufnya   yang   artistik

                                          (menyangkut tengtang seni dan kebudayaan).

 

d.    Khat Farisi, sesuai dengan namanya khat ini banyak berkembang di Parsi (Iran). Pakistan, India dan Turki. Perkembangan khat ini bermula dari Parsi pada masa pemerintahan Dinasti Safavid 15001800 M). pada masa pemerintahan Shah Ismail dan Shah Tahmas, perkembangan khat ini sangat meluas sehingga mengalami kemajuan amat besar karena tulisan ini menjadi tulisan resmi yang digunakan di Parsi pada saat itu.

e.    Khat Riq'ah, yaitu hal yang disebut juga khat Riq'ah atau Riqa'. Khat ini merupakan  jenis  tulisan  cepat  dan  hampir  sama  dengan  cara  menulis stenograf.  Corak  ini  banyak  digunakan  untuk  tulisan  tangan  biasa  yang bersifat rikas dan cepat karena tidak banyak memiliki lekukan. Tulisan khat Riq'ah berasal dan tulisan Naskh dan Thuluth. Yang membedakannya khat Riq'ah lebih cepat karena tidak memerlukan banyak lekukan pada ujung-ujung hurufnya.

f.     Khat  Diwani,  yaitu  tulisan  yang  sangat  berbeda  dengan  khat  Naskh  dan Thulutn. Khát Diwani berbentuk melingkar-lingkar, condoning bersusun- susun, hurufnya tumpang tindih, lentur dan bebas. Namun ukuran dan bentuk- bentuk hurufnya dalam satu ayat tidak bermacam-macam dan penulisannya pun sangat tergantung pada kemahiran, kecakapan, kreativitas atau minat dari penulisnya.

2.        Seni Bina

 

Al-Qur'an telah memberikan inspirasi penting kepada kelahiran seni bina islam terutama   dalam   pembangunan   kota   indah   yang   memiliki   laman   yang menyejukkan dan tidak ada hal-hal yang dapat merusakkan pandangan mata. Aspek yang paling penting dalam bidang ini adalah aspek penekanan yang dikehendaki dalam pembangunan seni bina yakni keseimbangan antara pembangunan dengan kerohanian yang di dalam nya yang harus diwarnai dengan keimanan, ketakwaan dan amal soleh yang dipadukan dengan pembangunan berupa binaan binaan yang mencakar langit, istana indah, hiasan-hiasan laman cantik, masjid mewah, fasilitas dan kemudahan pasar yang mencukupi dan sebagainya.

3.        Bahasa dan Kesusasteraan

 

Al-Qur'an  menjelaskan  ayat-ayat  melalui  ungkapan-ungkapan  ta'bir,  uslub, bahasa dan sastra arab yang sangat tinggi. Buktinya Allah SWT telah menganugerahkan wahyu kepada Nabi Adam serentak dengan penganugerahan kemampuan dan kemahiran dalam berbahasa. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat Ar-Rahman: 1-4,

"(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur'an (wahyu). Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai berbicara."

Ayat di atas mengungkapkan beberapa uraian. Pertama, peradaban manusia yang terawal ialah diberikannya kemampuan untuk bertutur dan berbahasa. Kedua, peradaban manusia yang bermula dengan adanya bimbingan wahyu. Sejarah juga mengakui bahwa pengungkapan Al-Qur'an ini diuraikan juga dalam peradaban masyarakat  purba  dan  masyarakat  primitif yang  bermula dengan  bahasa dan kesusasteraan. Masyarakat purba dan masyarakat primitif walaupun kebanyakannya menganut faham animisme namun mereka tetap menjalankan upacara keagamaan atau adat istiadat penyembahan atau pemujaan dewa-dewa yang mereka percayai. Salah satu ciri dari adat istiadat ini yaitu curahan perasaan ketaatan, ketakwaan dan sebagainya yang menggunakan susunan kata-kata yang indah yang dikenali sebagai mantra dan seumpamanya. Hal ini berarti bahwa kesusasteraan lisan merupakan pencapaian kebudayaan manusia yang pertama. Setelah kesusasteraan lisan lebih maju, maka barulah lahir karya puisi, prosa, syair, cerita dan sebagainya. Puncak pencapaian kesusasteraan lisan ini maka lahir pula kesusasteraan melalui tulisan dengan diiringi kelahiran berbagai corak tulisan.

Sejarah  peradaban  manusia  juga  sejajar  dengan  apa  yang  diungkapkan  oleh Qur'an yaitu usaha manusia itu bermula dengan keimanan, ketakwaan dan amal soleh. Hanya saja karena masyarakat purba dan primitif yang datang selepas nabi Adam  telah  tersesat  dan  jauh  daripada  ajaran  kitab  para  rasul  utusan  Allah menyebabkan kesusasteraan yang mereka hasilkan itu membawa kepada penyebaran Tuhan palsu dan sesat. Sebenarnya, kesusasteraan itu sewajarnya bertitik tolak pada akidah, syariat dan akhlak untuk menuju ke arah keimanan, ketakwaan dan perbuatan amal soleh. Itulah kesusastraan ynag tepat dan sebenarnya yang memenuhi fitrah asal manusia yang cinta akan keindahan dan kedamaian di bawah ridho Allah.

 2.6  Beberapa Isyarat Seni dalam Al’Qur’an

Ungkapan keindahan seni yang terhubung dalam Al-Qur‟an dikemukakan secara terperinci dan jelas. Ini diperlihatkan dalam ayat-ayat Allah SWT seperti berikut :

1.        Penciptaan jagat raya mengungkap keserasian dan keindahan seni bina ciptaan

                                 Allah SWT.

 

Firman Allah SWT dalam surah Qaf 50:6

 

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada diatas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?” (Q.S. Qaaf:6)

2.        Warna-warni tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan sebagai seni berbagai rupa dan rasa

Firman allah SWT dalam surah Al-an‟am 6:99

 

“Dan dialah menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh- tumbuhan itu tanaman yang menghijau, kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak;dan dari mayang korma mengurai tangkai- tangkai  yang  menjual,  dan  kebun-kebun  anggur,  dan  (kami  keluarkan  pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya diwktu pokoknya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuassan Allah ) bagiorang-rang yang beriman”. (Q.S. Al-An‟am:99)

3.        Seni bina masjid menjadi tempat utama untuk beribadah bagi orang-orang yang beriman pada waktu pagi dan petang

Firman Allah SWT dalam surah An-nur 24:36

 

“Bertasbih  kepada  Allah  dimasjid-masjid  yang  telah  diperintahkan  untuk dimuliakan dan disebut namaNya didalamnYa pada waktu pagi dan petang”.

4.        Peralatan seni dan tulisan pun diperhatikan Al‟Quran

 

Firman llah SWT dalam surah Al-Qalam 68;1

                                 “Nun,demikian qalam dan apa yang mereka tulis.” (Q.S. Al-Qalam:1)

 

 

2.7  Batasan-Batasan Seni Dalam Islam

 

 

Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kehidupan seni karena posisi seni di sini sebagai stabilisator antara perkembangan ilmu dan teknologi[1]. Islam mengijinkan adanya seni yang lahir sebagai kebudayaan manusia, selama tidak menyimpang dari syariat islam dan Allah swt melalui Al-Quran telah menjelaskan apa saja hal-hal yang bisa menimbulkan kemusyrikan, yang harus dijauhi oleh umatnya yang ber- iman, diantaranya :

 

1.      Membuat Dan Menyimpan Gambar Atau Patung  Makhluk Yang Bernyawa.

 

Allah SWT mencela orang yang membuat dan menyembah  patung makhluk yang bernyawa seperti dalam firman-NYA Al-Qur‟an surat Ash-shaffat: 95-96 yang artinya: “ Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs Ash-shaffat: 9-96).

Dari firman diatas jelas sekali bahwa pembuatan patung makhluk bernyawa dapat menimbulkan kemusyrikan, islam adalah agama tauhid tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT, termasuk patung patung yang telah di buat dan tidak boleh ada yang menyerupai ciptaanya Allah SWT. Di dalam kitab Fathul-Bari, Ibnu hajar menyatakan bahwa pada awal hadist riwayat Bukhari kisah berikut ini: “ Ammarah telah bercerita kepada kami bahwa abu Zar‟ah pernah  bercerita  kepada  kami:    aku  telah  memasuki  sebuah  bangunan  di madinah bersama Abi Hurairah ketika dalam sebuah gedung ada yang membuat gambar ( patung). Dia berkata: “ Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “(Dengan mengutip firman Allah) tidak ada orang yang paling dzolim selain orang orang yang membuat ciptaan sepertiku‟. Lalu Abu Hurairah membasuh kedua tangan ke ketiaknya. Kemudian aku bertanya: “ Wahai Abi Hurairah adakah sesuatu yang lain yang engkau dengar dari Rasulullah saw?‟ Abu Hurairah menjawab: „ Ya….. sampai ujung janggut!”. Hukuman dan Azab bagi pembuat gambar ( patung)

 

a)  Azab  akan  ditimpakan  secara  terus  menerus  melalui  siksaan  yang  sangat pedih dan ancaman yang terus ditambah

b)  Pelaku digolongkan ke dalam prilaku kezoliman paling besar.

 

c)  pada hari kiamat dia akan dipaksa mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin dapat dia lakukan

d)  Jika pembuat gambar menganggap perbuatannya halal. Dia dapat digolongkan sebagai orang kafir terhadap kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

e)  Rumah pembuat dan pemilik gambar ( patung) tidak akan dimasuki malaikat rahmat.

f)   Allah SWT akan menghina dan mencela pembuat patung ( gambar).

 

g)  Jika perbuatan membuat patung dijadikan profesi berarti dia telah mencari nafkah dengan jalan yang tidak halal.

Adapun gambar  yang di perbolehkan:

 

a)      Setiap gambar atau patung yang tidak bernyawa, seperti gambar pemandangan alam. Gambar-gambar ini diperbolehkan atas dasa hadist Ibnu Abbas r.a ini: “Jika   kamu   harus   menggambar   juga,   hendaklah   kamu   menggambar pepohonan dan benda yang tidak bernyawa.

b)      Gambar bernyawa yang tepaksa harus dibuat, seperti foto untuk kartu tanda penduduk (KTP) atau alat peraga yang berkaitan dengan ilmu kedokteran( kesehatan), dan hal lain yang bersifat darurat.

c)      Permainan untuk anak-anak, seperti boneka, sebagaimana disebutkan bahwa ketika kecil Aisyah r.a sering bermain-main boneka dengan kawan kawan sebayanya. Pada waktu itu Rasulullah saw mengetahuinya namun beliau tidak mempermasalahkannya.

2.      Seruling Setan ( Nyanyian Yang Di Haramkan)

 

Nyanyian dan musik merupakan dua pintu yang dilalui setan untuk merusak hati dan jiwa. Banyak ulama salaf telah berpendapat mengenai hukum nyanyian dan alat musik, diantaranya:

a)  Abu Bakar Shiddiq r.a: “Nyanyian dan alat musik itu seruling setan.”

 

b)  Abdullah bin Mas‟ud r.a: Nyanyian itu dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati.”

c)  Al-Qasim bin Muhammad: “Menyanyi itu termasuk perbuatan batil dan setiap yang batil bagiannya adalah neraka.”

d)  Kholifah Umar bn Abdul Aziz r.a: “Nyanyian itu berawal dari setan dan ujungnya adalah kebencian Allahurrahman.”

e)  Imam  Malik  bin  Annas  :  “Bagi  kami  nyanyian  itu  hanya dilagukan  oleh orang-orang yang fasik.”

f)   Imam Syafi‟I : “Menyanyikan nyanyian adalah perbuatan yang sia-sia yang dibenci dan menyerupai kebatilan dan kesia-siaan.”

g)  Imam Ahmad bin Hanbal: “Nyanyian itu dapat menimbulkan nifak di hati.

 

Saya tidak tertarik pada hal seperti itu.”

 

h)  Para pengikut Imam Abu Hanifah: “Mendengar nyanyian termasuk perbuatan fasik, dan tenggelam dalam keasyikannya merupakan kekufuran.”

i)   Imam Qurthubi: “ Nyanyian itu merupakan salah satu yang dilarang di dalam

                                              Al-Qur‟an dan As-Sunnah.”

 

j)   Imam Ibnu Shalah: “Nyanyian yang diiringi musik hukumnya secara ijma.

 

Selain pendapat para ulama salaf di atas yang mengharamkan nyanyian dan alat musik, juga terdapat pula nash pengharaman nyanyian dan alat musik. Di dalam Al-Qur‟an surah Al-Isra ayat 64, Allah SWT berfirman menyeru iblis yang artinya: “ Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.” (Qs Al-Isra: 64).  Imam Mujahid pemimpin para ahli tafsir mengatakan bahwa Ibnu Abbas r.a berkata: “Seruan (suara) setan itu adalah nyanyian, seruling, dan alat-alat permainan yang membuat kita menyia-nyiakan waktu.”  Dari dalil diatas jelaslah bahwa nyanyian dan alat musik itu diharamkan dalam islam karena dapat menghalangi hati manusia dari Al-qur‟an sehingga hati tekun kepada kefasikan dan kemaksiatan, karena telah tunduk pada tipu daya setan.

Namun Islam membuat pengeculian mengenai di perbolehkannya nyanyian, yaitu  nyanyian  yang  diambil  dari  bacaan  Al-Qur‟an  untuk  menggantikan nyanyian yang diharamkan. Telah banyak nash dari Rasulullah saw, yang berisi anjuran agar seorang muslim menjadikan Al-Qur‟an sebagai nyanyian yang di dendangkan melalui bacaan yang diperindah dan pemeliharaan terhadap kaidah tajwid, diantara hadist Rasul saw yaitu: “Pelajari al-Qur‟an dan peliharalah, serta bacalah dengan cara diperindah, Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, ia jauh lebih mudah untuk lepas dari ingatan kita dibandingkan dengan lepasnya unta dari talinya.” (HR Ahmad: 4/146 dan disebutkan oleh Imam Al- Haitsami dalam majma‟ul Zawa‟id: 7/169. Dia berkata: “HR Ahmad dan Thabrani, sedang rijal sahih.”)

Islam merupakan agama yang suci, islam sangat memelihara jiwa manusia , menjaga kecendrungan-kecendrungan manusia yang ingin menghibur jiwa, serta tetap menghormati keinginan fitrahnya dengan tetap memliharaan kesucian agar tetap suci. Membaca dan mendengarkan lantunan Al-Qur‟an adalah cara menghibur jiwa yang paling baik.


BAB III

 

 

PENUTUP

 

 

3.1  Simpulan

 

 

Islam merupakan agama yang suci, islam sangat memelihara jiwa manusia, menjaga kecenderungan-kecenderungan yang dimilikinya serta menghormati keinginan fitrahnya dengan tetap memelihara kesucian agar tetap suci. Karena itulah islam membolehkan   hamba-Nya   untuk   berkarya   seni.   Namun,   Seni   dalam   Islam kebanyakan seperti seni yang diajarkan dalam alquran,   tidak diajarkan ikonisasi perwujudan makhluk oleh ciptaan Allah dalam bentuk pemujaan berhala. Seni dalam Islam mengajarkan sesuatu yang berbentuk estetik (sesuatu yang indah), akan memperkuat perenungan objek-objek dan kenikmatan estetis yang akan memperkuat ideologi dasar dan memperkuat kesadaran akan ciptaan Allah SWT, yang akan menggiring  manusia  untuk  mengakui  kebesaran  Allah  SWT.  Seni  juga  sebagai bahasa universal diharapkan mampu dijadikan sarana untuk mengajak berbuat bak (ma‟ruf) dan mencegah perbuatan munkar.

 

Adapun  Seni  yang  murni  lahir  dari  ajaran  islam  adalah  seni  bangunan  ( masjid) dan seni tulis indah (kaligrafi). Selain dari dua seni itu para ulama masih memperdebatkan tentang hukum kebolehannya.

 

3.2  Rekomendasi

 

Bagi pendidik : Dapat menyelaraskan antara ilmu agama dan ilmu seni agar lebih bermanfaat dalam pembelajaran

Bagi masyarakat : Dampak positif dan negatif  tentu ada dengan cara beberapa adab- adab dalam masyarakat yang memang sesuai dengn moral

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fauzi, A. M. (2015). Seni Menurut Perspektif Islam. Universitas Gajah Mada

 

Jenuri, dkk. (2019). Penguatan Materi Seminar Pendidikan Agama Islam (SPAI). Bandung: GAPURA PRESS

 

Makmur,  Abdullah.  (2009).  Isyarat  dan  Manifestasi  Seni  dalam  Al-Qu‟an:Satu Sorotan. Jurnal Al-Tamaddun, No.4, 67-69

 

Wildan, R. (2007). Seni Dalam Perspektif Islam. Journal: Jurnal Islam Futura, Vol.

VI,           No.           2,           78-88.           Diakses           dari           internet:

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ca d=rja&uact=8&ved=2ahUKEwih7sPvndvnAhVJ6XMBHRPAAYEQFjACeg QIAxAB&url=http%3A%2F%2Fjurnal.ar-raniry.ac.id%2Findex.php%2Fi slamfutura%2Farticle%2Fdownload%2F3049%2F2176&usg=AOvVaw1iKPl Gc4GuPLtvhJI2xw8w

 

Purwanto, Y. (2010). Seni Dalam Pandangan Al-Quran. Jurnal Sosioteknologi Edisi 19          Tahun          9,          782-796.          Diakses          dari          internet https://www.google.com/search?q=issn%1858-3474.

 

Comments

In Our Opinion and Learning